3.16.2011

#Day 20 - Takdir




Kita bisa memesan bir tetapi kita tak pernah bisa memesan takdir (Djenar Maesa Ayu & Agus Noor).

Saya setuju. Karena saya dan kamu masih hidup di dunia yang penuh ketakutan. Sedikit-sedikit bikin khawatir. Besok mau makan apa, pakai baju apa, tinggal dimana, menikah dengan siapa, punya anak berapa, jadi bawahan atau merintis usaha, semua masih berupa teka-teki. Kita tidak punya otoritas untuk membuat finalisasi, karena memang bukan porsi kita.

Itu pemikiran sekarang. Kalau halamannya dibalik ke masa lalu, tidak ada yang yang bisa menentukan siapa orangtuanya, dengan cara apa dulu dibesarkan, bagaimana pergaulan kita, siapa saja yang membuat kita terambung atau terpuruk. Dan seterusnya. Dan seterusnya.

Padahal, kita ini sebetulnya diberikan kehendak yang bebas. Saat kita sudah mulai bergerak melepaskan diri dari orangtua, keputusan mutlak apapun ada ditangan kita. Be somebody or nobody. Mau berkutat dengan kemelut sakit hati (padahal kreator sakit hati sedang bersenang-senang diluar sana tanpa rasa bersalah) atau maju terus sambil percaya bahwa kita ini spesial. Punya harga luar biasa.

Saya senang bisa melepaskan bagian masa lalu yang buruk dan menari karena punya kesempatan baru untuk menikmati hidup.

Masa lalu dan yang akan datang tidak bisa kita ketuk palunya. Yang bisa kita lakukan adalah membuat rancangan dan menjalankannya dengan usaha sekeras baja.

Menjalaninya jangan sendirian, minta ditemani Sang Khalik.

-Jakarta, Maret 2011, V-


No comments:

Post a Comment