11.29.2010

Dingin


Udara siang ini begitu dingin. Berbeda dengan udara tadi pagi ketika saya beranjak ke kantor.

Saya merasa sedikit lelah. Tidak tahu apa sebabnya. Yang pasti, hari ini saya sudah memuntahkan isi perut saya sebanyak 2 kali di toilet kantor yang berukuran 2x2 meter.

Kata orang bawaan bayi. Morningsick. Apapunlah, yang penting saya menikmatinya.

Belakangan ini saya ingin sekali bernyaman-nyaman di rumah orangtua saya. Berada jauh dari rutinitas, keriuhan, kemacetan, juga polusi. Sayangnya, tidak mungkin saya realisasikan dengan mudah.

Saya merindukan masa kecil saya. Tidak merasakan beban. Tidak peduli dengan pikiran besok harus makan apa, pakai baju apa, tinggal dimana. 
Tidak gerah dengan bobroknya negara. Tidak pusing dengan deadline. Tidak penat dengan tuntutan hidup.

Udara siang ini cukup dingin. Sedingin hati saya yang ingin diletakkan di kampung halaman tercinta.

Saya hanya ingin pulang. Sebentar saja.



Jakarta, November, V.

11.26.2010

Mendung


Mendung. Petir. Hujan.

Mereka kadang-kadang berteman, kadang-kadang tidak.

Biasanya saya suka sekali dengan hujan. Tapi tidak untuk kali ini. Hujan membawa serta mendung & petir di dalam hati saya.

Tidak enak rasanya kalau harus dipaksa membuka rentetan memori busuk.
Karena, siapakah saya, yang dapat dengan mudah menghapusnya dari rekaman peristiwa dalam otak.

Pikiran saya pun melayang, susah sekali rasanya mengampuni sosok yang satu ini, mengingat fitnahannya, mengingat kebohongannya, mengingat mulut manisnya, mengingat kecurangannya, mengingat kelicikannya, mengingat ketidak-ingin-kalahannya, mengingat kepicikannya, mengingat kemunafikannya, mengingat ke-sok-suciannya, mengingat ketidakhormatannya kepada orangtua saya.

Terlalu banyak yang pahit dibandingkan yang manis. Terlalu banyak yang tidak ingin saya ingat. Namun, semakin saya pergi beranjak menjauh, semakin sering saya lekat dengan memori itu.

Sakit hati. Ya. Pasti. Amat sangat.

Minggu depan dia akan menikah dengan pria idamannya. Menikah setelah meninggalkan pacar setianya selama 8 tahun. Yang mungkin jadi korban kebohongannya juga, lalu dibiarkan begitu saja dengan mengarang berbagai alasan supaya terlihat benar bahwa hubungan mereka harus berakhir. Tapi, akh, saya toh tidak ingin peduli juga dengan urusan mereka. Hanya kasihan. Juga berharap pria yang akan dinikahinya tidak akan bernasib sama dengan pria sebelumnya.

Saya diundang untuk hadir. Ya. Karena saya adalah istri dari sepupunya sendiri. Apakah saya harus datang? Jawabannya juga ya. Tentu saja bukan karena dia. Semua saya lakukan hanya karena saya amat sangat menghormati suami & keluarga suami saya. Terutama orangtua.

Saya hanya tidak ingin datang kesana dan menertawakannya. Menertawakan senyum palsunya. Mudah-mudahan dia sudah berubah. Tidak seperti sosok menyebalkan yang saya kenal dulu. Yang senang berbasa-basi semanis gulali, padahal di belakang bisa saja tiba-tiba menikammu.

Ya. saya mungkin agak sedikit kasar. Atau memang kasar. Tapi tidak sebanding dengan yang pernah dia lakukan kepada saya dan keluarga. Melakukannya begitu saja, dan membiarkannya menguap seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Tanpa peduli apa akibatnya.

Dan kali ini saya memang hanya ingin berbagi dengan kamu, kertas kosong yang akhirnya saya penuhi dengan tulisan. Hanya ingin menumpahkan kekesalan di dalam hati. Yang nyatanya belum bisa terhapus bagus.

-Jakarta, November 2010, V.-




















11.24.2010

9 Weeks

Tiba-tiba saja saya bahagia, ketika tanpa sengaja memandangi kalender di meja.
Kalau perhitungan saya tidak salah, hari ini kandungan saya berumur 9 minggu.

Mari flashback sedikit :)

28 Oktober 2010, adalah hari bersejarah bagi saya & suami. Betapa tidak, alat test kehamilan yang saya gunakan menunjukkan 2 garis horizontal, yang menyatakan bahwa status saya akan berubah menjadi seorang ibu.

Saya menitikkan air mata. Setelah menunggu hampir 8 bulan setelah pernikahan saya, barulah tanda ini hadir.
2 November 2010, saya pergi ke sebuah rumah sakit untuk memastikan apakah saya benar-benar mengandung atau tidak. Dan jawabannya adalah ya!

Tidak dapat saya gambarkan bagaimana rasanya saat melihat cikal bakal buah hati saya di dalam sebuah mesin yang dipanggil USG. Kecil sekali, seperti biji kacang di dalam sebuah kantung. Ini merupakan pengalaman yang luar biasa ketika saya menyadari bahwa ada sesosok makhluk hidup yang sedang hidup dalam tubuh mungil saya.

Saya menjalani berbagai keadaan sampai hari ini. Tidaklah mudah. Namun saya rela melakukannya demi sang generasi. Jadwal pagi saya diisi oleh mual dan muntah. Kadang sampai siang atau sore atau malam. Emosi menjadi tidak begitu stabil. Makan apapun menjadi tidak begitu nikmat. Tetapi, saya menikmatinya.

Setiap pagi dan malam, saya, juga suami, berdoa untuk kesehatan & kesempurnaan si kecil. Saya selalu percaya, ketika Sang Khalik menganugerahkan saya pemberian yang luar biasa ini, Dia pasti menjaganya. Karena saya awam, yang punya keterbatasan.

Saya akan selalu menantikan kehadiranmu kecil...Dan saya terlalu sayang padamu...

Jakarta, November 2010, V.