2.07.2015

Halo 2015!


-google image-


Saya baru saja tersadar. Sudah lama tidak menjenguk blog saya.

Tahun 2013 adalah kala terakhir.

Ah, rasa-rasanya sudah banyak sekali hal yang tidak saya bagi.

Walaupun malam ini saya juga tidak tahu persis apa yang ingin saya bagi.

Saya hanya rindu saja sebenarnya. Membaca beberapa tulisan saya sebelumnya membuat saya terusik.

Hari ini kami tidak kemana-mana. Menikmati hujan dan aroma rumput yang basah, sesekali bercengkrama, memunguti kudapan yang hangat, dan mengamati jumlah nyamuk yang semakin malam semakin banyak jumlahnya.

Terbersit di dalam benak saya, betapa sibuknya nyamuk-nyamuk ini mengumpulkan isapan darah dari tubuh manusia. Walaupun mereka tahu sebuah risiko : tubuh mereka yang kecil akan hancur apabila tangan sang manusia saling bertepuk.

Sama saja dengan manusia. Semua keputusan memiliki risiko tersendiri.

Jika ingin bertahan, risiko harus ditelan.

Toh, risiko dapat diminimalisir bukan?

Dulu saya memiliki ketakutan tersendiri ketika anak saya meminta waktu untuk bermain di luar rumah. Walaupun saya awasi. Ada beberapa anak yang memang suka berlaku sedikit tidak lazim kepada anak saya atau anak lain yang ditemuinya. Mencelakakan tanpa tahu bahwa itu merugikan orang lain sudah biasa mereka lakukan.

Hingga pada akhirnya saya disadarkan oleh mantan pacar saya, bahwa saya harus melatih anak saya untuk terbiasa dengan risiko. Risiko dikecewakan, risiko disakiti, risiko dicemooh, risiko tidak dihargai, dan sebagainya. Dalam batas yang wajar saya membiarkan anak saya menghadapi semua risiko tersebut. Saya akan membantunya bangkit setelah dia mengalami pengalaman buruknya ketika terjun bersosialisasi dengan keluarga atau teman-temannya.

Kalimat pamungkas saya cuma satu (jika diterjemahkan ke dalam bahasa dewasa) : “nak, kamu akan lebih banyak lagi bertemu dengan orang yang culas diluar sana, tidak semua orang akan baik kepadamu, jadi, yang tidak baik tidak perlu kamu contoh.”

Biasanya raut wajahnya akan kecewa, karena sepertinya saya tidak sedang membela dia. Yang selalu saya syukuri, hati anak-anak tidak menyimpan dendam, sehingga setelah kejadian buruk berlalu, dia akan kembali bermain bersama teman-teman yang menyakitinya. Hanya saja, dia jauh lebih berhati-hati.

Mempersiapkan buah hati saya untuk menghadapi sebuah risiko bukanlah hal yang sepele. Karena saya sendiri seringkali tidak siap apabila bertemu dengan kekecewaan.

Kalau saya sudah mulai kecewa, saya selalu ingat perkataan mantan pacar saya. “Mulai kita bangun pagi hingga kita kembali tidur, akan selalu ada masalah. Jangan pernah menimbang masalah kita dengan orang lain atau mengharapkan orang lain mengalami masalah yang sama dengan kita. Sehingga dia mengerti bahwa kita sedang kecewa. Karena setiap orang diuji sesuai kekuatannya dan masalah mereka sama beratnya dengan masalah yang sedang kita hadapi. Hanya bentuk permasalahannya yang berbeda. Dan setiap orang pasti punya cara untuk mengatasinya. Pilihan kita adalah kita mau bangkit atau tetap pada zona kecewa, sehingga energi kita terkuras dan pada akhirnya mendapati diri kita tidak berguna. Yang lebih konyol adalah, disaat kamu kecewa, belum tentu orang yang mengecewakan kamu sadar bahwa kamu kecewa. Atau ingatlah bahwa kita mungkin sedang berlaku hal yang sama kepada orang lain.”

Cukup membuat bekas pada benak. Membuat kuat juga awas.

Semoga kita lapang. Semoga kita sanggup. Semoga kita bahagia.