5.11.2011

Day 1 - Mari Kita Mulai




Sudah lama tidak menulis.

Sudah lama tidak berceloteh.

Sebenarnya niat saya sudah membuncah, hanya saja belum bertemu dengan si waktu.

Saya mulai lagi hari ini dengan tema 30 hari mengucap syukur.
Inilah alasan mengapa saya mencetuskan titel ini : saya mulai belajar melewati semua hari dengan bersyukur dan apa yang saya dapatkan lebih dari yang saya bayangkan. Logika saya pun tak mampu mencapainya.

Kamu boleh percaya. Boleh juga tidak. Tapi apa yang saya alami benar adanya.

Mengucap syukur itu bukan jimat untuk mendapatkan kebahagiaan, karena dia bukanlah hal yang sepele untuk dilakukan. Terlebih kala duka dan kesakitan menghampiri. Setidaknya, buat saya, mengucap syukur itu membuat jiwa menjadi lebih tenang. Karena saya yakin, di luar sana terlalu banyak orang yang mencoba bertahan dengan keadaan yang lebih sulit.

Saya sudah berhenti dari pekerjaan saya sejak satu bulan yang lalu. Saya memang banyak menghabiskan waktu di rumah, mengingat kandungan saya pun sudah mendekati garis akhir. Sejak saat itu pula, saya mencoba fokus untuk lebih bersyukur dengan apa yang saya alami. Apapun bentuk kondisinya. Mengurangi gerutu, mengurangi prasangka buruk, mengurangi keluhan, mengurangi perkataan yang tidak baik, mengurangi semua kenegatifan yang ternyata (tanpa saya sadari) membuat beban di pundak saya menjadi lebih berat. Sehingga langkah saya tertatih-tatih karena bungkuk.

Hasilnya? Di luar perkiraan saya. Apa yang tidak pernah terlintas di pikiran saya pun terjadi. Bersyukur itu melahirkan hati yang lebih lapang. Leluasa dengan penerimaan. Fleksibel kepada pemberian maaf.

Kagum? Sudah pasti. Sang Khalik itu tidak pernah terlambat menjawab apapun yang menjadi pertanyaan kita. Saya yang sempat sangat khawatir dan menggerutu tentang bagaimana masa depan keluarga, malah diberikan multiplikasi, bahkan promosi. Tidak ada alasan untuk tidak mengucap syukur bukan?

Betapa malunya saya karena saya tidak sadar bahwa Sang Khalik itu mungkin punya telinga lebih dari ratusan juta untuk mendengarkan keinginan saya dan kamu secara detil. Kita yang tidak tahu diri inilah yang mempersulit jalannya, dengan tidak mengucap syukur.

So, kita mulai yuk, perlahan saja.


-Jakarta, Mei 2010, V-

No comments:

Post a Comment