Showing posts with label 30 Hari Mengucap Syukur. Show all posts
Showing posts with label 30 Hari Mengucap Syukur. Show all posts

6.08.2011

Day 9 - Selamat!




Buat saya, hujan selalu membawa basah dan sejuk untuk hati. Baunya yang bercampur dengan tanah pun menjadi riak semangat tersendiri untuk kalbu. Nyaman.

Malam ini hujan akan membawa rasa syukur saya kepada kamu. Ada yang ingin saya bagi.

Dulu saya pernah menulis tentang seorang wanita yang menjadi inspirasi saya lewat keteguhan imannya. Saya menulis kisahnya di jejaring sosial tanggal 23 November 2010. Saya berbagi soal gigihnya beliau dan suami berjuang untuk mendapatkan sang generasi.

Pengharapan dan usaha yang mereka lakukan ternyata tidak pernah mengenal kata lelah. Terus menerus dilakukan dan diyakini bahwa suatu saat semua akan berakhir pada hasil yang baik. Dan kamu tahu? Mereka membuktikannya! Tidak ada yang mustahil kalau kita mau percaya. Sembilan bulan ke depan malaikat kecil mereka akan hadir. Dan dia pasti menjadi hadiah yang paling berharga dalam masa empat tahun penantian.

Saya menitikkan air mata bahagia. Saya melihat langsung keajaiban yang Sang Khalik ciptakan. Dan, saya belajar bahwa tidak gampang untuk memelihara iman sebesar yang mereka punya. Perlu nyali!

Kejar dan lakukanlah APA yang menjadi kewajiban kita, tanpa memikirkan BERAPA upah yang akan Sang Khalik berikan jika semuanya dilakukan dengan benar. Apapun akan ditambahkan kepada kita secara otomatis, semudah menjentikkan jari. Bahkan diluar kapasitas logika kita, manusia.

Selamat untuk datangnya jawaban atas pengharapan dan kerja keras! Saya sayang kalian!

NB : Hujan, jangan lupa ya, cerita saya dibagikan untuk siapapun yang bernyali besar!

-Jakarta, Juni 2011, V-

5.25.2011

Day 8 - Jenuh




Sebenarnya saya ingin teriak saja. Rasa jenuh susah sekali dihindari.

Desakan ini begitu kuat. Mengepak barang seadanya ke dalam koper, pergi ke bandara, membeli tiket ke tempat yang belum pernah dihinggapi, lalu berangkat menjauhi kesendirian. Sepertinya menyenangkan.

Jawabannya sudah pasti : TIDAK BISA UNTUK KALI YANG INI.

Hari ini saya sudah mencoba menghabiskan waktu dengan memasak, membaca buku, membuka tautan-tautan internet, menonton televisi yang semakin hari menayangkan program yang tidak beresensi, menyelam di jejaring sosial, dan lain-lain, dan lain-lain. Hasilnya : nihil.

Tidak tahu sebenarnya apa yang saya butuhkan. Membuat sibuk diri sendiri di rumah sepertinya hanya perwujudan dari pelarian. Sifatnya hanya menambal. Tidak terisi sampai padat.

Kalau kamu jadi saya, bagian mana yang harus disyukuri?

Setelah berpikir lama, ada satu hal yang tetap bisa diberikan rasa syukur (Tadinya, saya juga tidak punya nyali untuk menjawab). Ya, rasa jenuh itu sendiri. Bayangkan saja kalau kita mati rasa, pasti hidup kita tidak akan punya warna. Tidak punya cerita. Tidak ada yang dituangkan dalam tulisan seperti yang sedang saya lakukan sekarang. Saya bahkan bisa menjamin, buku harianmu pun akan kosong melompong.

Dan, saya tidak akan berbohong. Detik ini pun saya masih jenuh. Juga masih berharap semua berlalu dengan lekas.



-Jakarta, Mei 2011, V-


5.23.2011

Day 7 - Pelajaran Hari Ini



Saya ini manusia biasa. Pernah kecewa. Dan saya tidak ingin mengorek luka saya yang lama.

Apalagi kamu, lebih tidak berhak lagi!

Semua orang punya privasi. Saya menjunjung tinggi itu. Dan saya berharap kamu juga menghargai milik saya.

Tujuan saya bukan untuk membalaskan dendam. Tidak. Saya sudah tidak mendendam. Saya hanya tidak ingin punya urusan dengan masa lalu. Masa dimana tidak ada kedewasaan dalam persahabatan. Buat saya, pergaulan yang buruk itu tetap saja merusak kebiasaan yang baik. Jadi, lebih baik dihindari kan?

Saya memang ekspresif. Dalam hal apapun, saya akan menyampaikannya dengan frontal. Saya tidak akan menyembunyikan respon. Hari ini, kamu saya anggap kelewatan, karena kamu tidak punya hak untuk membagikan apa yang bukan menjadi milik kamu. Reaksi saya, ya pasti begitu. Sedikit tidak mengenakkan.

Maafkan saya. Bukannya saya tidak ingin berbagi hal-hal pribadi. Hanya saja, semua harus ada aturannya. Karena kamu tidak hidup sendirian di dunia ini. Fortunately, ada hal baik yang saya pelajari dari kamu, saya semakin mengerti tentang bagaimana caranya menghargai sesama. Terimakasih ya! Saya bersyukur!

-Jakarta, Mei 2011, V-

5.19.2011

Day 6 - Permohonan Untuk Para Tikus




Hari ini tidak banyak yang saya alami. Hanya mengerjakan rutinitas.

Setengah hari saya habiskan untuk memelototi layar televisi yang menampilkan sejumlah berita tentang negeri ini. Hasilnya sama saja setiap hari : kontroversi pemerintahan dengan keadaan rakyat.

Kekonyolan demi kekonyolan dipampang dengan jelas. Sepertinya memang tidak ada lagi sisi yang baik dari negeri ini.

Entah harus menggerutu atau bersyukur. Kalau saya, tetap saja memilih untuk bersyukur. Biar bagaimanapun, saya hidup dari tanah air yang dicap bobrok ini.

Berdoalah untuk bangsa ini dan berlakulah baik. Mulai dari diri kita sendiri saja, supaya generasi yang lahir berikutnya tidak rakus seperti yang sudah-sudah. Mungkin menurut kita tidak ada gunanya karena pergerakan signifikan pun sudah sering memberondong para petinggi yang bisanya hanya menghabiskan jatah rakyat. Tetapi, percaya saja, selalu ada jawaban untuk permohonan yang tulus.

Semoga tikus kecil dan tikus besar yang menggerogoti bangsa kita tidak hidup jorok lagi dalam kegelimangan harta yang didapat dari penderitaan orang lain.

-Jakarta, Mei 2011, V-

5.18.2011

Day 5 - Mengingat Ibu




Pukul 18.50 tadi, seorang bayi perempuan lahir. Anak pertama dari pasangan berbahagia, yang merupakan teman saya ini, diberi nama Viela Grace Susanto. Bayi cantik, menggemaskan, dan sangat dinanti.

Proses demi proses dilewati sang ibu seharian ini. Sejak subuh dia berjuang mengatasi rasa sakit akibat kontraksi demi terbukanya jalan lahir si mungil. Pasti bukan hal yang mudah. Mempertaruhkan nyawa adalah syaratnya.

Benak saya melayang. Membayangkan 26 tahun (lebih satu hari) yang lalu, ibu saya melakukan hal yang sama : mengirimkan saya ke dunia lewat pertarungannya dengan maut. Saya yang posisinya sempat sungsang pun bisa dihantarkan dengan normal. Beliau mengeluarkan banyak sekali darah karena lilitan tali pusar saya ikut menjadi masalah kala itu. Saya belum pernah tahu rasanya, tetapi saya yakin, membayangkannya pun tidak ingin.

Ungkapan rasa syukur keluar bersama tetesan air mata saat benak saya kembali. Kini saya diizinkan memiliki rasa yang dulu pernah dilalui ibu saya. Berat. Namun menyenangkan. Salut saya untuk ibu dan semua perempuan yang juga sudah menjadi ibu. Upah kalian ada di surga!

Empat minggu lagi akan tiba giliran saya. Giliran untuk menjadi sarana lahirnya ciptaan baru Sang Khalik ke dunia. Langsung dari rahim saya. Saya berterimakasih bahwa saya akan melewati fase pertaruhan nyawa. Pengalaman di antara hidup dan mati. Semoga menyenangkan.

Sudah saatnya beristirahat. Mudah-mudahan kita semua ingat kasih sayang ibu yang sudah tercurah bersama darah, tangis, dan keringat di sepanjang hidupnya. Dan mintalah kepada Sang Khalik agar senantiasa memperhatikan ibu kita saat kita tidak bisa melakukannya.

-Jakarta, Mei 2011, V-