5.04.2016

Karunia Menikmati












-google images-



Halo.

Tidak terlampau jauh berbeda dengan tulisan saya minggu lalu.

Masih berkutat tentang banyak hal.

Saya sedang mencoba untuk mencerna dua buah kata yang terngiang-ngiang sepanjang hari ini : karunia menikmati.

Sepertinya dibuat terlalu rumit ya? Mengapa harus ada kata karunia sebelum kata menikmati?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, karunia adalah pemberian atau anugerah dari yang lebih tinggi kedudukannya kepada yang lebih rendah (contoh dari seorang raja kepada hambanya atau dari Tuhan kepada manusia). Sementara kata menikmati memiliki definisi merasai, mengecap, mengalami sesuatu yang menyenangkan atau memuaskan. Yang lebih ajaib, pada kata dasar menikmati : nikmat, memiliki arti yang sama dengan kata karunia, yaitu pemberian dari Tuhan kepada manusia.

Saya takjub. Ternyata karunia dan nikmat memang mungkin tidak boleh dipisahkan.

Pertanyaannya, berapa banyak dari kita yang memiliki karunia menikmati?

Apakah yang dapat dijadikan tolak ukur? Materikah? Status sosialkah? Religikah?

Banyak orang yang kaya raya tetapi tidak dapat menikmati kekayaannya. Banyak orang yang sangat populer tetapi tidak dapat menikmati ketenarannya. Banyak orang yang terlihat sangat rohani tetapi tidak dapat menikmati hubungan dengan Penciptanya. Yang dikenakan hanyalah topeng. Bahkan banyak orang yang memiliki waktu tetapi tidak dapat menikmati waktu tersebut.

Karunia menikmati itu mahal rupanya.

Belajar menikmati untuk saya bukanlah sebuah hal yang mudah. Hanya saja, beberapa tahun terakhir ini saya bersyukur diberikan kesempatan untuk mengasah diri lebih banyak, mendengar lebih banyak, berempati lebih banyak, dan bergumul lebih banyak. Setiap proses menghasilkan sesuatu yang dapat saya nikmati. Tidak muluk-muluk memang. Tetapi mampu membuat saya sadar bahwa kita tidak punya alasan untuk tidak menikmati hidup kita.

Suami yang baik, anak yang manis, teman-teman yang sudah seperti saudara sendiri, komunitas yang membangun, adalah nikmat yang tidak ternilai untuk saya. Saya menyadari bahwa Tuhan betul-betul memelihara hidup saya dengan apik dan detil.

Gelimang sukacita akan hadir dari setiap perkara. Sekalipun itu buruk. Karena semua yang terjadi akan berlalu. Selamat menikmati hidup!


-Jakarta, 040516, V-


4.28.2016

Learn More



-google images-


Sepanjang jalan menuju rumah kami terlibat dalam pembicaraan yang cukup panjang.

Aku dan dia dan gadis kecil kami.

Sembari menunggu kemacetan terurai.

Saya selalu menatap mata lelaki yang sudah hidup bersama saya selama enam tahun lamanya ketika dia berucap-ucap.

Semua yang dia katakan terdengar seperti bisikan belaka. Saya hanya memerhatikan matanya yang jauh lebih banyak menyimpan cerita.

Cerita marah. Cerita putus asa. Cerita gundah. Cerita letih. Cerita tak berdaya. Akan tetapi ada sedikit selipan cerita tentang harapan.

Dan itu buat saya lebih penting daripada semuanya.

Perubahan selalu membawa manusia kepada dua pilihan. Menjadi lebih bahagia atau sebaliknya. Menjadi lelaki yang sekarang lebih banyak bergantung kepada kondisi kesehatan sembari harus melaksanakan tanggungjawab sebagai seseorang yang berkomitmen bahwa semua yang dikerjakan sejajar dengan melayani Tuhan adalah status yang cukup rumit untuknya. Dan di setiap doa-doa yang dipanjatkannya bukan kesehatan instan yang dia minta, tetapi kekuatan untuk kami sehingga ini semua dapat terlewati.

Saya tercatat sebagai pengidap gangguan asam lambung sejak saya duduk di bangku sekolah menengah pertama. Beranjak hingga saya menjejakkan kaki di perguruan tinggi penyakit saya semakin parah. Semua teman-teman saya selalu punya julukan saya si tukang pingsan. Jangankan terlambat mengunyah. Tertekan sedikit saja saya akan berkawan akrab dengan si asam lambung yang naik tanpa kira-kira.

Sampai tahun 2014 kemarin “teman” saya itu seringkali menghampiri. Bahkan dia tidak lupa mengajak serta temannya yang bernama Vertigo. Lengkap sudah. Pertengahan tahun 2014 adalah masa-masa yang sangat tidak mengenakkan karena saya berkutat dengan mereka hingga berbulan-bulan lamanya. Saya sempat tidak bersuara karena asam lambung membuat pita suara saya meradang. Dan beberapa kali tidak dapat bangun karena semuanya berputar.

Hidup dengan pengasihan Tuhan dan berserah (bukan menyerah) adalah kunci yang saya pelajari sejak saat itu. Karena apapun yang mengganggu pikiran saya akan berujung kepada melemahnya kondisi fisik saya. Saya belajar banyak mendengarkan. Mendengarkan Tuhan. Menenangkan sekali rasanya.

Seringkali masalah tidak berkurang kehebatannya. Bahkan sampai hari ini taringnya terus terasah dan bertambah hebat tajamnya. Saya mengalami banyak sekali rintangan yang luar biasa melelahkan. Tetapi yang sangat saya tidak percayai adalah tidak satupun penyakit langganan saya “ngapel” kembali. Justru dalam dua tahun yang sangat sangat sangat berat, tidak bersolusi, saya baik-baik saja! Tuhan baik ya!

Saya belajar bahwa sampai hidup kita berakhir akan selalu ada momok yang bernama kesulitan. Apapun bentuknya. Biasanya saya akan memilih untuk menangis di malam hari (ya, saya masih manusia), ketika anak gadis saya sudah bermimpi dan membiarkan diri tertidur sembari berharap esok pasti akan lebih baik. Selalu ada kekuatan supranatural yang tidak dapat saya ceritakan. Saya selalu punya kekuatan baru untuk bangkit. Saya tahu benar Tuhan menjaga saya. Melegakan saya. 

Urusan persoalan selesai atau tidak nantinya, saya memilih untuk percaya saja. Apapun yang kita alami tidak akan melebihi kapasitas kita. Tuhan selalu tahu batas kesanggupan kita. Kita hanya ditunjuk untuk mengupayakan doa dan daya.

Belajar berserah bukanlah hal yang mudah untuk saya. Seperti sedang memegang tumpukan kertas berisikan ujian-ujian rumit, lalu berucap ingin menyerahkan semuanya kepada sang Kunci Jawaban, tetapi ketika akan diselesaikan, kita memilih untuk tetap memegang kertas-kertas tersebut. Tidak ada sinkronisasi di antara perkataan dan keinginan. Nihil.

Saya sadar, Tuhan menjadikan kami semakin hari semakin berisi. Makan makanan yang keras. Bukan lagi susu, karena kami bukan bayi. Semua harus melalui proses kunyah. Tidak ada lagi makanan yang langsung ditelan bulat-bulat. Setiap proses punya ceritanya masing-masing. Dan akan punya esensi.

Sampai berjumpa minggu depan ya!


-Jakarta, 280416, V-

2.07.2015

Halo 2015!


-google image-


Saya baru saja tersadar. Sudah lama tidak menjenguk blog saya.

Tahun 2013 adalah kala terakhir.

Ah, rasa-rasanya sudah banyak sekali hal yang tidak saya bagi.

Walaupun malam ini saya juga tidak tahu persis apa yang ingin saya bagi.

Saya hanya rindu saja sebenarnya. Membaca beberapa tulisan saya sebelumnya membuat saya terusik.

Hari ini kami tidak kemana-mana. Menikmati hujan dan aroma rumput yang basah, sesekali bercengkrama, memunguti kudapan yang hangat, dan mengamati jumlah nyamuk yang semakin malam semakin banyak jumlahnya.

Terbersit di dalam benak saya, betapa sibuknya nyamuk-nyamuk ini mengumpulkan isapan darah dari tubuh manusia. Walaupun mereka tahu sebuah risiko : tubuh mereka yang kecil akan hancur apabila tangan sang manusia saling bertepuk.

Sama saja dengan manusia. Semua keputusan memiliki risiko tersendiri.

Jika ingin bertahan, risiko harus ditelan.

Toh, risiko dapat diminimalisir bukan?

Dulu saya memiliki ketakutan tersendiri ketika anak saya meminta waktu untuk bermain di luar rumah. Walaupun saya awasi. Ada beberapa anak yang memang suka berlaku sedikit tidak lazim kepada anak saya atau anak lain yang ditemuinya. Mencelakakan tanpa tahu bahwa itu merugikan orang lain sudah biasa mereka lakukan.

Hingga pada akhirnya saya disadarkan oleh mantan pacar saya, bahwa saya harus melatih anak saya untuk terbiasa dengan risiko. Risiko dikecewakan, risiko disakiti, risiko dicemooh, risiko tidak dihargai, dan sebagainya. Dalam batas yang wajar saya membiarkan anak saya menghadapi semua risiko tersebut. Saya akan membantunya bangkit setelah dia mengalami pengalaman buruknya ketika terjun bersosialisasi dengan keluarga atau teman-temannya.

Kalimat pamungkas saya cuma satu (jika diterjemahkan ke dalam bahasa dewasa) : “nak, kamu akan lebih banyak lagi bertemu dengan orang yang culas diluar sana, tidak semua orang akan baik kepadamu, jadi, yang tidak baik tidak perlu kamu contoh.”

Biasanya raut wajahnya akan kecewa, karena sepertinya saya tidak sedang membela dia. Yang selalu saya syukuri, hati anak-anak tidak menyimpan dendam, sehingga setelah kejadian buruk berlalu, dia akan kembali bermain bersama teman-teman yang menyakitinya. Hanya saja, dia jauh lebih berhati-hati.

Mempersiapkan buah hati saya untuk menghadapi sebuah risiko bukanlah hal yang sepele. Karena saya sendiri seringkali tidak siap apabila bertemu dengan kekecewaan.

Kalau saya sudah mulai kecewa, saya selalu ingat perkataan mantan pacar saya. “Mulai kita bangun pagi hingga kita kembali tidur, akan selalu ada masalah. Jangan pernah menimbang masalah kita dengan orang lain atau mengharapkan orang lain mengalami masalah yang sama dengan kita. Sehingga dia mengerti bahwa kita sedang kecewa. Karena setiap orang diuji sesuai kekuatannya dan masalah mereka sama beratnya dengan masalah yang sedang kita hadapi. Hanya bentuk permasalahannya yang berbeda. Dan setiap orang pasti punya cara untuk mengatasinya. Pilihan kita adalah kita mau bangkit atau tetap pada zona kecewa, sehingga energi kita terkuras dan pada akhirnya mendapati diri kita tidak berguna. Yang lebih konyol adalah, disaat kamu kecewa, belum tentu orang yang mengecewakan kamu sadar bahwa kamu kecewa. Atau ingatlah bahwa kita mungkin sedang berlaku hal yang sama kepada orang lain.”

Cukup membuat bekas pada benak. Membuat kuat juga awas.

Semoga kita lapang. Semoga kita sanggup. Semoga kita bahagia.


11.18.2013

Topeng yang Merajalela

-google image-



Baru saja mendengarkan keluh kesahnya.

Beberapa hari pasti telah disimpannya rapi. Mungkin tidak akan nyaman didengar hati istri saya, pikirnya.

Takjub. Adalah hal yang menjadi reaksi saya pertama kali setelah mendengar kisah yang luar biasa busuknya. Betapa topeng-topeng keagamaan menjadi momok yang kental dengan pribadi orang masa kini. Lekat sekali. Kadang membuat muak.

Saya bukanlah orang yang benar. Bukan juga orang yang suci seperti Sang Khalik. Saya bukan hakim atas kesalahan orang lain, karena saya pun gudangnya salah.

Hanya gamang. Ada pribadi-pribadi yang berlomba memamerkan teori "ketaatan" tetapi aplikasinya bertolak seratus delapan puluh derajat.

Memang, ini bukan kali pertama saya. Berjumpa dengan individu berjudul munafik. Dan memaafkan dengan tulus itu bukan pekerjaan yang mudah.

Pertanyaannya, apakah kita dapat menghindar dari kenyataan yang terpampang lugas di hadapan kita? Tentu saja tidak. Harus diterima dan dihadapi. Katanya.

Dahulu manusia pertama hanya mengenal kata "baik" dan "sungguh amat baik". Ketika buah pengetahuan di Taman Eden mereka makan, hadirlah "baik" dan "jahat". Lalu terciptalah dosa dan anak cucunya. Dikembangkan sedemikian rupa oleh siapapun, termasuk saya.

Malam ini saya melihat kebohongan demi kebohongan dilakukan demi menyelamatkan harga diri tanpa peduli dengan eksistensi orang lain. Sepele atas pengorbanan orang lain. Remeh dengan dedikasi dan komitmen yang sudah diperjuangkan orang lain.

Tidak ada kata yang mampu menggambarkan betapa kecewanya saya. Semua hal dapat dihalalkan. Hanya untuk sebuah kesalahan konyol yang tidak ingin diakui. Walaupun demikian, hati kecil saya yakin bahwa Maha Adil itu ada. Pembalasan hakiki adalah milikNya. Kita akan menuai apa yang kita tabur bukan?

Memandangnya malam ini membuat saya sadar sepenuhnya. Bahwa separuh nyawa saya sedang bersedih. Kecewa. Direndahkan dan tidak dihargai. Setelah apa yang telah ia lakukan dengan mengorbankan segala sesuatu, terutama waktu yang hilang untuk dinikmati bersama saya dan putrinya, tidak dihiraukan.

Lapanglah hatimu sayang. Luaslah kebaikanmu. Kerja kerasmu tidak akan kembali dengan sia-sia. Saya berdoa untukmu.




-Jakarta, Nov 2013, V-

3.06.2013

Isi Angka Tiga


#scrapbook#buat sendiri#untuk kekasih#


bahagia.sempurna.sukacita.damai.nyaman.ceria.lepas.apa adanya.

sedih.kurang.dukacita.usik.kacau balau.sandung.limbung.hampa.

tawa.haru.kejut.cinta.goda.romantis.jujur.manja.

kaku.cemburu.dusta.malu.lupa.sakit hati.tuntut.emosi.

setia.perhatian.baik.jahil.nekat.maaf.sesal.sayang.

sensitif.kritik.luka.pendam.tergesa.ragu.beda.biru.



semua sudah pernah dialami. akan ada tahun-tahun yang lebih lagi. saya akan tuliskan kembali. saat usia berganti.

selamat menikmati angka tiga sayang!


-Jakarta, Maret 2013, Ulang Tahun Kami, V-

3.01.2013

Cerita Kehilangan



-weheartit-


Pasti.

Semua makhluk punya cerita kehilangan.

Apapun bentuknya, pasti menyakitkan.

Bukan hanya tentang kematian. Boleh hubungan. Boleh rutinitas. Boleh apa saja.

Seolah-olah terlihat lebih baik berjalan dalam kegelapan bersama seseorang daripada berjalan sendirian dalam benderang siang.

Bagaimana definisi kehilangan menurut kamu?

Apakah seri dengan kami yang baru saja kehilangan Ompung (nenek) hari ini?

Apakah setara dengan Ayub yang ditinggalkan teman-temannya dikala ia sakit dan jatuh miskin?

Apakah serupa dengan kekasih yang dikhianati bertubi-tubi?

Apakah identik dengan ditinggalkan?

Silakan dijawab.

Saya juga akan menjawabnya. Berdua. Dengan hati saya.



-Jakarta, Maret 2013, V-


2.22.2013

Orang Gila yang Waras



-google image-

Sebut saja kami kedatangan tamu istimewa.

Menginap beberapa malam (hingga malam tadi) di teras rumah tetangga yang baru saja pindah ke sisi ibukota yang lain.

Kami tidak menyadari kehadirannya. Pada awalnya. Namun, beberapa jenis 'kesibukan' yang dilakukan beliau mengundang perhatian. Terutama saya dan keluarga, yang paling dekat posisinya.

Mulai dari menghidupkan rokok kretek, menyusun perca koran untuk peraduan, hingga melantunkan lagu awal tahun delapan puluhan. Seolah menghiasi kesendiriannya.

Semua orang memanggilnya dengan julukan ORANG GILA. Saya tidak demikian. Karena menurut saya beliau tidak segila orang-orang yang justru waras (sewaras-warasnya). Beliau masih dapat berjalan ke toko depan dan membeli (MEMBELI bukan MEMINTA) barang yang dia inginkan. Dan uangnya didapat dengan boleh-dibilang-mengatur lalu lalang kendaraan di sekitar kompleks ini. Walaupun dengan pakaian yang sangat compang-camping, bahkan (maaf) kadang tak berpakaian. Ada saja yang menaruh iba kepadanya. Menjatuhkan beberapa uang kecil atau memberikan beliau makanan. Dari situlah saya tahu bahwa dia tidak pernah meminta atau merampas. Dia BEKERJA untuk kelangsungan hidupnya, meskipun dengan kondisi yang sedikit terganggu. Tidak gila bukan? Seperti para koruptor tak bernurani yang tega merampas hak orang lain? Tolong koreksi kalau saya salah.

Beberapa hari yang lalu, hujan turun. Deras sekali. Dan beliau berteriak sangat kencang. Berulang-ulang. Otomatis saya dan hampir semua tetangga disini terbangun. Mantan pacar saya memerhatikan beliau dari jendela. Lalu, tercekatlah saya ketika si tampan ini berkata "Ma, He is praying to God, to stop the rain. He lifts up his hands and shout!"
Kami terdiam. Dan hanya saling memandang.

Air mata saya meleleh. Dan saya berdoa malam itu. Saya tidak meminta agar hujan berhenti, karena saya yakin, mungkin ada yang membutuhkan hujan di luar sana. Saya hanya meminta Sang Khalik memeluknya, sehingga kehangatan kasur nan empuk dan keluarga yang utuh, dapat beliau rasakan juga. Dan Sang Maha Adil itu menjawab doa saya. Hujan pun terhenti. Entah mengapa. Tetapi saya yakin rasa sayang untuk semua makhluk yang DIA ciptakan adalah sama.

Setelah kejadian itu berlangsung, semua orang membicarakan beliau. Ada yang mulai beropini untuk mengusirnya. Ada juga yang ingin menyiram beliau apabila mulai gaduh. Bahkan ada yang lebih konyol, berencana menaruh oli bekas di sepanjang teras tersebut, supaya licin dan beliau tidak akan berminat tidur disitu lagi. Betul kan? Siapa yang sebenarnya menurut Anda GILA? Yang dianggap gila atau yang bangga menyebut diri mereka waras? Apakah sudah tidak ada solusi yang lebih manusiawi?

Perenungan yang berharga buat saya. Terlebih saat Adzan Subuh mulai dikumandangkan keesokan harinya. Beliau ikut melantunkan ayat-ayat suci persis seperti bunyi Adzan tersebut. Dan, menurut saya, jauh lebih merdu daripada (maaf) orang waras yang sering ngendon di rumah ibadat manapun. Saya memang tidak mengerti apa arti lantunannya. Tetapi (sekali lagi) saya meneteskan air mata disaat yang sama. Di tengah 'kegilaannya', beliau masih waras untuk mengucapkan syukur kepada Penciptanya. Bagaimana dengan kita? Cukup sadarkah kita untuk (setidaknya) berterimakasih atas segala sesuatu?

Saya akan akhiri tulisan saya kali ini dengan menuliskan sebuah lirik lagu yang 'wah' buat saya. Tiap kali saya menemani putri saya sekolah minggu, lagu ini kerap dinyanyikan. Ya, sebuah lagu anak-anak. Sederhana sekali. Namun, untuk saya pribadi, lagu ini lebih dari sekadar 'modest'. Gaungnya nyata dalam kehidupan saya. Semoga kita dapat menghargai pemeliharaan Sang Khalik atas hidup kita.

Seperti bapak GILA yang WARAS.

Burung pipit tidak menanam, tapi Tuhan b'ri makan...
Bunga bakung tidak memintal, tapi Tuhan dandani...
Terlebih aku, anak-anaknya, pasti Tuhan p'lihara...
Terlebih aku, anak-anaknya, pasti Tuhan berkati...


-Jakarta, Feb 2013, V-

1.21.2013

Empati

-google image-


Katakanlah saya memang ingin mengungkapkan buncahan pemikiran yang terlewat.

Saat saya membaca beberapa selentingan milik kerabat tentang banjir yang merundungi ibukota. Beragam tentunya. Yang menarik perhatian adalah yang tidak bermuatan empati.

“Once in five years, Jakarta Waterpark, Don’t miss it!”

“Makanya, udah dari dulu harusnya ibukota dipindahin aja ke Palangkaraya, Soekarno aja maunya begitu.”

Buat saya, komentar di atas sama dangkalnya (atau lebih tepat, sama kurangajarnya) dengan yang berikut ini.

“Biarin aja itu orang-orang US ngerasain Sandy (Superstorm Sandy) kali-kali. Banyak dosanya sih.”

Atau ini.

“Ya ampuunnn, kok lo asik sendiri sama bb (Blackberry) lo. Gaul banget lo ya, segaul ARTIS deh. Arek Autis.”

Sebenar-benarnya bukan hak saya juga untuk mengomentari kembali apa yang telah terlontar dari (maaf) kekonyolan mereka. Hanya “kagum”.

Disaat orang lain sedang kedinginan tanpa sandang,pangan, dan papan yang layak, masih ada kicauan sumbang soal banjir (dan saya berani bertaruh, mereka juga tidak tergerak untuk membantu).

Disaat orang lain kehilangan keluarga dan orang-orang yang disayangi ketika badai Sandy melanda, muncul pernyataan tidak wajar (toh saya rasa beliau ini tidak ada hubungannya dan tidak pernah dirugikan secara langsung oleh US, bahkan menggunakan dan menikmati apa yang sudah diciptakan US). Walaupun US buat saya juga tidak spesial. Sama saja.

Disaat di luar sana banyak orangtua yang berjuang untuk merawat dan mendidik anak-anak dengan keistimewaan ADHD, ada yang berlomba membuat bahan guyonan tanpa sadar bahwa pembalasan itu hakiki.

Bagaimana dengan kita? Apakah masih ada tempat di hati kita untuk Sang Empati? Apakah masih ada rasa iba ketika dipertontonkan sesama yang bersusah payah? Apakah kata-kata buruk yang meluncur dari mulut kita membuat kita jauh berbahagia?

Mantan pacar saya berbagi sesuatu tadi malam. Manusia itu diciptakan sempurna. Diberikan kehendak bebas oleh Sang Khalik. Apapun dapat kita utarakan atau kita lakukan. Persoalannya hanya terletak pada aturan. Bagaimana kita mengatur agar apa yang keluar dari liang mulut kita adalah yang keluar juga dari hati kita. Karena apa yang keluar dari hati akan tiba ke hati.

Dan itu bukanlah pekerjaan yang mudah.

Saya dan Anda akan terus belajar bijak dalam berkata-kata. Karena ucapan punya kuasa. Kendalikanlah kekuasaan yang diberikan pada kita atau kekuasaan itu pulalah yang akan menghancurkan kita.



-Jakarta, Januari 2013, V-



PS : Thank you pop sudah berbagi dengan saya. Love.

1.09.2013

Be Generous With Everything We Have

-google image-

Mengawali tahun 2013 ini saya dibekali dengan pelajaran sarat makna. Sebagai manusia yang menua dan sebagai seseorang yang ingin melabeli dirinya sebagai pribadi yang lebih baik.

Selain pesan-pesan berpetuah yang saya dapatkan persis di malam pergantian tahun kemarin, ketika keluarga besar berkumpul, saya mendapatkan pesan yang tidak kalah penting dari pelatih paduan suara yang saya ikuti. Boleh dikatakan sebagai salah satu agenda resolusi yang saya aminkan akan menjadi gaya hidup kita semua. Terdengar muluk-muluk memang, namun dapat terwujud jika kita bersedia.

Pesan ini untuk kamu atau siapa saja yang siap MEMBERI dengan hati.

Enjoy.

Di Tahun 2013 ini, Jakarta Tabernacle Choir mendapatkan pesan untuk menjadi Pelayan yang menjadi Saluran Berkat bagi sesama manusia.

Kisah Para Rasul 20:35
"Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan YESUS, sebab IA sendiri telah mengatakan : Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima."

Semua orang bisa menerima, tetapi tidak semua orang bisa memberi. Memberi ada di level yang berbeda dari menerima. Menerima adalah tentang diri sendiri, sementara memberi adalah tentang orang lain. Ketika kita menerima, kita berada pada suatu tingkatan tertentu, tetapi ketika kita memberi, kita berada di tingkatan yang lebih tinggi dari menerima.

Yakobus 4:1
"Darimanakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu."

Ayat tersebut memiliki arti bahwa semua problem yang muncul di dalam suatu komunitas biasanya diawali dengan : LEBIH mementingkan diri sendiri dibandingkan kepentingan orang lain. Dan bukan itu yang Tuhan mau kita lakukan. Pelayan itu berbicara tentang memikirkan/mementingkan kepentingan orang lain di atas kepentingan kita. Pelayan yang baik adalah menjadi yang paling akhir/mendahulukan orang lain dan tidak mementingkan diri sendiri.

Oleh karena itu, kita harus memiliki hati yang mementingkan/memerhatikan kepentingan orang lain di atas kepentingan sendiri.

Saya sangat memahami bahwa mempunyai mentalitas pelayan/pemberi itu tidak alamiah sifatnya, karena kita tidak lahir sebagai Pelayan/Pemberi, akan tetapi sebagai Penerima (kita bisa lihat kebiasaan anak kecil yang ketika makan harus disuapi, lalu dimandikan, dikenakan pakaian, didandani, dsb). Jadi, dapat dikatakan bahwa Anak Kecil mentalitasnya adalah Menerima/Dilayani. maka dari itu, setahap demi setahap, setiap anak dilatih untuk dapat melakukan hal tersebut di atas secara mandiri dan lambat laun bahkan bisa melakukannya untuk orang lain.

Demikian juga dalam kehidupan kerohanian kita, kita yang awalnya terbiasa untuk "menerima", harus mengubah kebiasaan tersebut menjadi "memberi".

Disadari atau tidak, dengan kita memberi, maka kita memperbesar kapasitas hati kita.

Matius 6:21
"Karena dimana hartamu berada, di situ juga hatimu berada."

Dengan kita memberi/memberkati orang lain, maka hati kita akan berada pada orang tersebut. Semakin banyak orang yang kita berkati, maka semakin besar wilayah hati kita berada, dengan demikian kapasitas hati kita akan menjadi semakin besar.

Amsal 11:24-25
"Ada yang menyebar harta tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi meminum, ia sendiri akan diberi minum."

Saya menekankan pada kalimat "Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan,..." Ayat Amsal tersebut tidak mengatakan "Siapa yang berkelimpahan akan memberi berkat", akan tetapi sebaliknya. Kita harus banyak memberi berkat terlebih dahulu, agar supaya kita berkelimpahan.

Tahap berikutnya dari memberi adalah "MOTIF".
Motif memberi juga harus benar, jangan kita memberi dengan motif "Suatu saat saya akan mendapatkan." Motif yang benar dalam memberi adalah :
1. Memberi dengan mentalitas "Giving" bukan "Getting".
2. Memberi "Walaupun...", bukan memberi "Supaya...".
3. Memberi "Meskipun...", bukan memberi "Apabila...".
4. Memberilah dengan sikap hati "MEMBERI".

Penjelasan tentang "Memberi" di atas tidak melulu tentang pemberian secara finansial atau materi, akan tetapi pemberian terhadap "SEGALA YANG KITA MILIKI", yaitu Pujian, Doa, Waktu, Tindakan, Pengampunan, dan hal lainnya.

Dan di dalam setiap pemberian kita, kita harus bermurah hati (Be Generous). Dengan memiliki sikap hati yang "Generous" dalam memberi, maka kita akan dapat melakukan pelayanan kita dengan jauh lebih baik.

BE GENEROUS WITH EVERYTHING WE HAVE.

Tuhan Memberkati,
Michael Hutagalung


-Jakarta, Januari 2013, V-
"Terimakasih Among Beshies, pesannya boleh saya bagi. God Bless You!"


10.04.2012

Selamat Hari Lahir Pria Kesayangan






Matahari mulai menunjukkan batang hidungnya.

Pagi hadir membawa hari yang baru.

Berdasarkan hitungan awam, hari ini adalah peringatan kesekian untuk seorang pria yang sangat berarti.

Pria yang selama-hampir-sembilan tahun ini menempati posisi ketiga di hati setelah Tuhan dan Papa.

Pria yang setiap pagi menyenandungkan doa untuk putri kecilnya. Lalu menghabiskan waktu berdua dengannya sebelum tanggungjawab memanggil. Dan saya melihat raut wajah yang tidak rela saat batasnya tiba.

Pria yang terkadang menjadi anak-anak, meringkuk pada perbatasan bahu dan lengan saya, hanya untuk berceloteh. Ya, semua hiruk pikuk hidup yang dialami. Semua senang atau sedih. Semua wajar atau gamang. Lalu tertidur seolah-olah baru saja mendongengi diri sendiri.

Pria yang bertahan pada semua badai yang diizinkan, sehingga mampu menahkodai rumahtangganya dengan sangat baik. Menempati empati untuk merasakan apa yang sedang saya rundungi, sembari mempertahankan logika pada otaknya agar semua dapat seimbang.

Pria yang tidak pernah malu untuk mengakui bahwa dia terbatas. Memerlukan Tuhan, saya, dan orang lain. Sehingga makna hidupnya sempurna dengan kehadiran siapapun.

Saat hari ini dikumandangkan dengan lantang, saya bahagia. Tuhan (masih) menyokong dia untuk berkarya lewat apapun yang dititipkan kepadanya. Juga untuk memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih dewasa. Dan selama itulah saya percaya dia akan menamatkan tugasnya dengan baik. Dengan komitmen bahwa hidupnya adalah persembahan absolut kepada Sang Khalik.

Selamat menikmati hari ini sayang, semoga apa yang menjadi kerinduanmu terpuaskan, semoga semua hal (baik atau buruk) membawa senyuman manis untukmu, dan semoga hari ini-juga seterusnya-selalu hadir dengan istimewa seperti adanya kamu.

Selamat Ulang Tahun Pop. Peluk cium kami untukmu.





-Jakarta, Your Special Day, V-

9.27.2012

Lebih



-google-

Setidaknya, sebelum bulan September ini berakhir, ada sebuah cerita yang harus saya usung. Demi keeksisan blog ini. Hahaha!

Walaupun sebenar-benarnya, sulit untuk merampungkan semua kata-kata yang membludak. Juga terbentur dengan minimnya waktu yang saya miliki. Mahfumlah, ibu beranak satu.

Ah, kita cerita-cerita saja yuk!

Saya ingin berbagi tentang hal 'berlebihan' denganmu.

Sekali waktu saya melihat status jejaring sosial milik teman saya. terucaplah sebuah jargon yang belakangan saya sadari sebagai sebuah tren. Ya, di Indonesia ini luar biasa banyak trennya bukan?

"Trus, gw mesti bilang WOW gitu?" atau versi kreatif tapi menggelikan "Trus, gw mesti naek ojek ke Meksiko, joget-joget pake gaya Gangnam, nyanyi lagu Agnes Monica di puncak gunung Jaya Wijaya, cuma untuk bilang WOW gitu?"

Saya berani bertaruh. Pasti kamu juga sudah mendengarnya. Atau minimal membacanya. Atau jangan-jangan kamu yang menciptakannya?

Hal yang lumrah bagi remaja masa kini. Sementara, bagi saya yang tentunya sudah bangkotan, ini adalah hal yang mampu mengocok isi perut. Saya yakin, jargon ini punya alasan untuk lahir. Dan yang paling mungkin menurut logika saya adalah karena bersinggungan dengan hal yang dinilai berlebihan oleh sang pencipta ide jargon. Sekali lagi salut untuk kreatifitasnya.

Berbicara tentang 'lebih', apa yang terlintas di benakmu?

Buat saya, semua yang kurang atau berlebihan menimbulkan akibat yang tidak semestinya baik. Jika tepat takarannya, tepat pula hasilnya. Sekali lagi ini menurut logika dangkal saya.

Terkadang kita bertemu dengan orang-orang yang 'berlebihan'. Berlebihan pada perasaan sehingga terlalu sensitif, berlebihan curiga, berlebihan dalam berkata-kata, berlebihan pada rasa tidak ingin kalah, berlebihan pada pertemanan sehingga tidak tahu tempat dan situasi, berlebihan pada pameran harta benda, berlebihan pada adu gaya dan keeksisan tanpa peduli utang menumpuk, berlebihan pada keinginan pengakuan dari orang lain, berlebihan tentang pembuktian jati diri, lalu seterusnya, dan seterusnya.

Mohon maaf. Tidak ada maksud saya untuk menyinggung kamu. Terkadang saya juga begitu. Berlebihan.

Sebenarnya, dunia ini memang ramai dengan orang-orang seperti ini. Selama tidak mengganggu, yaaaa, biarkan saja. Hanya, persoalan pasti datang kalau ternyata mengusik bukan?

Seperti saya. Yang akhirnya menghapus beberapa akun facebook milik pemaki. Atau milik alay-ers. Atau nyengir kesana kemari apabila berbincang dengan orang yang tidak pernah memandang sesuatu dari sisi positif. Atau yang tiap saat pamer. Atau yang tiap saat terlihat ngibul-nya. Atau yang tiap saat ingin seluruh dunia tahu bahwa dia menderita (seolah-olah makhluk selain dirinya tidak pernah kesusahan). Sekali lagi, mohon maaf, saya juga bisa muak.

Persoalan hidup bukanlah semata-mata tentang hal sepele yang harus dilebih-lebihkan. Banyak detil yang lebih berat kapasitasnya untuk dipikirkan. Lagipula, tidak usah khawatir, semua sudah ada porsinya. Bahkan kesusahpayahan pun ada batasnya diberikan Sang Khalik pada kita. Tidak akan melebihi kekuatan kita. Contoh konkrit bukan?

Yang tadi negatif semua ya?

Bagaimana dengan 'berlebihan' yang positif?

Menurut saya (lagi-lagi) dengan pemikiran pendek, tetap saja kurang baik. Mengapa? Jika kamu termasuk orang yang sangat kaya raya, sangat baik hati, sangat pandai, sangat bahagia, sangat rendah hati, sangat sopan, sangat segala-galanya, BAGILAH KELEBIHANMU PADA TEMPATNYA! Sehingga semuanya pas. Tidak kurang. Tidak lebih. Dan semua orang yang mendapatkan kelebihanmu akan bersuka karena kekurangan mereka tertutupi.

Karena, kelebihan kita, bukan milik kita. Semua dititipkan. Ya, semuanya. Milik kita hanya sebatas cukup.

Selamat mengatur semua kelebihan dan kekurangan kita.


-Jakarta, September 2012, V-


8.03.2012

Berubah




-weheartit-



Manusia berubah.

Terserah. Mau ke koridor yang lebih baik atau malah sebaliknya.

Saya? Jangan tanya. Nyali saya juga belum cukup banyak untuk menjawab.

Hanya sedikit melit. Beberapa orang menemukan kesempatan untuk menjadi manusia beradab. Tetapi ada yang tidak.

Bukan urusan saya memang.

Sebut saja saya terlalu ingin tahu.

Benak kadang berangan. Roda dunia ini seperti apa wujudnya? Pekerjaannya memang berputar atau diam saja?

Yang saya tahu, kalau toh dia berputar, siapapun dapat menempati tempat orang lain. Betul begitu?

Lalu apa kabar dengan kita yang masih tidak sadar akan kenyataan berempati?


Before you assume, learn the facts.
Before you judge, understand why.
Before you hurt someone, feel.
Before you speak, think. –Unknown-

Sahabat saya pernah berujar, “Saya paling takut sama hukuman Sang Khalik. Cepat atau lambat, sadar atau tidak, apa yang kita lakukan selalu ada balasannya. Dan Saya lebih takut apabila yang menanggungnya adalah keturunan Saya.”

Nurani saya terhenyak. Tidak peduli julukannya adalah karma atau apapun. Yang pasti hukum tabur tuai itu hakiki.

Pelajaran berharga untuk saya malam ini. Mengingat beberapa minggu dihampiri oleh orang-orang yang mulai berubah-menurut saya-dengan tidak adanya maksud untuk mewasiti apakah mereka menjadi beradab atau sebaliknya.

Sekali lagi saya tidak berhak.

Yang pantas saya layangkan adalah ucapan terimakasih. Karena saya belajar dari manusia yang berubah.

Atau yang tidak ingin berubah.



-Jakarta, Agustus 2012,V-



5.15.2012

Waktu (Tribute to Bang Onye-Kornel M. Sihombing)




Saya sudah tidak ingat berapa lama saya tidak menggurat laman kosong pada layar berukuran 14 inci ini. Waktu seakan tidak pernah cukup sejak saya resmi menjabat predikat ibu rumah tangga. 24 jam. Seharian. Penuh.

Pernahkah kamu menyadari bahwa tiba-tiba saja langit menjadi redup? Bukan karena mendung tentunya. Tetapi karena malam menghampiri. Padahal siang baru saja menjejakkan kakinya ke bumi.

Waktu itu sifatnya mutlak. Pasti. Tidak dapat diulang. Dan setiap memori yang singgah juga bersinggungan akan berlalu seiring dengan kepergian Waktu. Waktu juga membuat tanda bahwa semua yang kita jalani adalah fana. Semua akan berakhir. Segera!

Saya tidak ingin sok menakut-nakuti. Toh, saya juga tidak punya bayangan apa-apa tentang akhir dari Waktu.

Hari ini entah mengapa saya betul-betul memikirkan bagaimana Waktu bisa bekerja keras. Mengusung semua memori ke dalam otak juga benak. Memori baik atau buruk.

Waktu sanggup mengubah detik demi detik menjadi peristiwa yang tak akan terulang lagi. Dan kali ini saya tidak tahu harus dikategorikan kepada memori bagian manakah peristiwa yang sangat memukul semua orang dengan sadis. Saya sadar sepenuhnya bahwa saya tidak punya otoritas untuk menolak pekerjaan Waktu dan penciptaNya.

Berawal ketika Waktu menibakan saya pada hari Rabu. 9 Mei 2012. Waktu memberikan informasi bahwa dia akan membawa saya pada peristiwa kehilangan. Kehilangan seorang panutan. Waktu membiarkan saya tekun mengikuti semua kejadian yang dapat saya ikuti hanya lewat media massa dan elektronik. Tak ketinggalan informasi dari sahabat-sahabat terdekat. Saya masih berharap bahwa Waktu akan mempertemukan saya (terlebih panutan saya) dengan Si Mujizat. Ternyata, hari itu, Waktu tidak berbaik hati.

Lalu, tiba pada hari Kamis. 10 mei 2012. Waktu memberikan fakta bahwa Sang Khalik punya kehendak lain. Pesawat yang ditumpangi oleh panutan saya telah ditemukan jatuh di sebuah gunung. Dengan nyali yang tinggal sedikit saya masih berhasrat Waktu punya dispensasi agar pertemuan dengan Si Mujizat terlaksana. Hasilnya sama. Nihil.

Seakan tak lelah, Waktu mengajak saya beralih dengan cepat kepada Jumat. 11 Mei 2012. Waktu memilihkan saya momen yang sangat tidak ingin diterima dengan lapang. Bahwa tidak ditemukannya korban selamat membuat kaki ini seperti tidak sedang berpijak. Pupus adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan situasi yang diberikan Waktu. Walaupun, sekali lagi, saya memang tidak punya hak tolak kepada Sang Khalik atas semua kuasa yang dilakukannya. Saya hanya mampu menerima, menyuarakan tangis dan bertanya kepada benak. Mengapa semua ini dipaparkan Waktu tanpa jeda?

Datanglah Sabtu. 12 Mei 2012. Saya dan beberapa orang sahabat mengunjungi rumah Sang Panutan di Bandung. Kami memang terlihat seperti sedang mengadakan reuni akbar. Sesungguhnya sama sekali tidak. Dalam diam saya mengenang, Sang Panutan selalu seperti ini, suka kalau kami itu satu. Kumpul dalam simpul kasih yang senantiasa beliau perlihatkan. Walaupun alasan kami terkumpul bukan dalam rangka bersenang-senang tentunya.

Akhirnya ada sedikit alasan untuk senang dengan Waktu. Ajakannya pergi ke beberapa memori baik yang pernah dilalui dengan beliau dan keluarga, saya patuhi dengan senang hati.

Saya kagum ketika saya sampai pada memori dimana beliau selalu menjaga integritasnya sebagai manusia mulia. Tidak muluk-muluk. Tidak berucap diluar koridor tatakrama. Rendah hati. Murah senyum. Disiplin. Hobi bersenda gurau dengan siapapun. Tidak menganggap orang muda itu sepele. Selalu punya ilmu untuk dibagi. Mesra dengan istri juga buah hati. Dan masih ada lusinan fakta yang tidak pernah akan cukup saya uraikan. Perwujudan buah-buah kasih itu nyata dalam tingkah lakunya. Sehingga, sejak awal saya tidak ragu menyebutnya sebagai Sang Panutan.

Beberapa malam sebelum saya menulis cerita ini, saya kurang bisa mengatur otak saya untuk beralih dari kenangan-kenangan tentang beliau. Saya memang bukan siapa-siapa. Saya hanyalah orang yang pernah belajar banyak tentang hidup dari beliau dan keluarganya. Bahkan semangat di kala Waktu menghadapkan saya dengan kekecewaan. Dan saya yakin, porsi memori tentang beliau dimiliki semua orang (yang kenal dengan beliau) dalam kuota yang besar.

Dan sudah pasti, kami sangat kehilangan beliau. Waktu benar-benar menunjukkan kapasitasnya sebagai asisten Sang Khalik dalam mengatur putaran takdir.

"Saya tetap berdoa ada keajaiban Tuhan. Saya tetap berharap Kornel survive. Sampai ada hasil identifikasi selesai dan ada berita yang pasti. Life must go on. Anak-anak harus sekolah, saudara-saudara harus bekerja. Saya akan pakai waktu menanti dengan mengumpulkan tulisan-tulisan Kornel untuk membuat buku. Saya dapat kuat dan sabar semata-mata karena Tuhan dan dukungan saudara, teman, dan semua orang yg selama ini berdoa untuk saya dan anak-anak. Jadi teruslah berdoa." (Indriati Ayub Sihombing)

Cuilan kalimat yang diutarakan istri beliau dengan tegar menjadikan tulisan saya malam ini bermakna. Iman yang beliau miliki membuat saya bergetar. Salut untuknya! Doa yang dipanjatkannya membawa Waktu berhenti sejenak. Bernafas dengan panjang. Memahami bahwa semua adalah pemberian Sang Khalik. Dan semuanya baik.

Salam rindu untukmu Bang Onye…

Sampai berjumpa lagi…

Waktu akan mempertemukan kita semua…


-Jakarta, Mei 2012, 1.21 AM, V-





3.06.2012

Selamat Merayakan Cinta!




Seperti embun, waktu menguap secepat bayangan melesat.
Ini adalah tahun kesembilan kamu menggenggam tangan saya.
Hangatnya pelukan dan doamu tadi pagi masih berdenyut hingga kini.
Dan bahagianya saya, kali ini kita sudah bertiga! Tentu saja dengan malaikat mungil yang punya senyum tiada berbanding.

Hati saya membuncahkan perasaan gembira. Tak terkatakan. Saya ingin terus merayakannya bersama kamu.
Satu tahun. Dua tahun. Sepuluh tahun. Dua puluh tahun. Selamanya.
Menyaksikan pasukan kecil kita berlarian riang. Lalu berjuang menjadi yang terbaik. Lalu bahagia saat mereka menemukan pasangan yang sepadan seperti saat saya berjumpa dengan kamu. Saya ingin kita ada disana nanti, merekam semua peristiwa. Sambil tetap bergandengan tangan tentunya.

Tidak banyak hal yang saya inginkan hari ini. Tidak akan muluk-muluk. Duduk berdua, menyeruput secangkir kopi dan coklat hangat, dan ohya, memamah cupcakes yang saya pesan minggu lalu, bercerita sampai pagi, lalu tidur berpelukan. Saya akan senang mewujudkannya dengan kamu.

Kamu, yang adalah setengah dari saya, selalu akan saya puja setelah Sang Khalik. Dan saya berterimakasih telah dianugerahi perasaan cinta yang diiringi dengan komitmen. Saya bersyukur memiliki kamu juga segala atributnya. Semoga kita selalu dapat mengarungi hidup dengan bahtera yang dinahkodai Sang Khalik.

Selamat ulang tahun untuk kita berdua. Selamat merayakan cinta. Dan saya, terlalu sayang padamu!


enjoy the cupcakes dear :*


-Jakarta, Maret 2012, V-

8.19.2011

Day 10 - Selamat Datang!




Sudah lama saya tidak menyentuh papan berhuruf yang berhadapan dengan layar 14 inci ini. Ya, menjadi agak sedikit (mungkin sangat) sibuk dengan dunia saya sebagai seorang ibu baru.

Akhir bulan enam kemarin adalah awal dari kehidupan yang sekarang saya jalani. Malaikat mungil yang selalu saya nantikan hadir. Lengkap dengan tangisannya yang membahana, senyumnya yang mencuri hati, ocehannya yang mampu meluluhkan segala keletihan, dan seterusnya, dan seterusnya.

Terhitung sangat sulit perjalanannya. Saya tidak pernah menyangka mama papa saya sanggup (dan masih) melakukannya hingga kini.

Setiap saya bangun, saya masih terpana, bahwa kini kewajiban saya bukan lagi memberi makan diri sendiri. Malaikat mungil yang keluar dari rahim saya bergantung satu kali dua puluh empat jam, tujuh kali seminggu. Penuh. Total. Dapatkah kamu membayangkan bagaimana akhirnya saya betul-betul menjadi perempuan yang berguna?

Itu hanya soal makan. Lain lagi halnya dengan soal membersihkan kotoran, memandikan, menggendong, menyenandungkan nyanyian, mengajak bermain, dan bercerita. Yang paling berat adalah urusan moral dan akhlak. Jadi apa dan siapa ia nanti, semua berawal dari didikan saya. Juga mantan pacar saya tentunya.

Acapkali saya keluar dari jalur kesabaran. Dunia yang belum pernah saya diami ini terkadang tidak ramah (menurut perasaan saya). Kata orang sih saya kena baby blues. Sebenarnya saya tidak begitu peduli dengan istilah itu. Ibu baru manapun pasti merasakannya. Hanya kadarnya berbeda. Tidak punya waktu tidur yang cukup. Tidak punya waktu untuk diri sendiri. Tidak leluasa. Juga ‘tidak’ yang lain. Puncaknya pasti pada sebuah keadaan dimana saya selalu merasa bahwa saya sendirian menanggung ini semua. Namun, ketika kembali mendapat kesempatan untuk melihat wajah lugunya, hati saya terobati.

Benak saya ikut bersuara. Menjadi seorang ibu akan memakan waktu seumur hidup untuk mengemban tanggungjawab. Apapun bentuknya. Jadi tidak boleh ada kata menyerah. Walaupun sempat terbersit pemikiran bahwa saya sebenarnya siap atau tidak, titipan Sang Khalik ini HARUS saya jaga dengan hati.

Selamat datang Melody Gracia Gultom, saya tidak punya sisa kata lagi untuk mengungkapkan betapa bersyukurnya saya memiliki kamu. Saya sangat mencintai kamu dengan darah saya, airmata saya, tawa saya, dan tentu saja hati saya.


-Jakarta, Agustus 2011, V-